Nina
Tuk.
Tuk. Tuk. Nina kecil bermain bola karet. Bola kecil warna hijau lumut yang
terasa pas dalam genggaman tangannya. Nina lelah, lalu merebahkan diri. Kaki
yang hanya sepanjang jengkal tangan lelaki dewasa itu diangkat tinggi-tinggi.
Cess… Telapak kakinya menyentuh tembok putih yang dingin. Ayahnya, seorang duda
tua ditinggal mati, berulang kali membujuk Nina untuk berhenti. Sampai kapan kaki kotormu terus menempel di
tembok itu… Namun usahanya gagal. Kaki kecil Nina terus menjejak di sana.
Terus meninggalkan bercak keabuan yang membuat dinding kamar semakin suram.
Kamar? Sebutan yang terlalu berlebihan untuk sepetak ruangan bekas kamar mandi
umum yang sebenarnya sudah tidak utuh. Hampir runtuh.
Nina
mengintip dari lubang kunci kamarnya. Tidak ada siapapun di sana kecuali si teman
ilusinya yang ternyata sedari tadi memperhatikan dari balik celah pintu. Aku sedang tidak ingin bermain denganmu!
Nina menyumpal lubang kunci itu. Temannya
kecewa, lalu pergi. Nina kembali merangkak ke ranjang, menempelkan telapak kakinya
ke tembok, dan bermain-main lagi dengan bola karetnya. Tuk. Tuk. Tuk! Bola itu
melesat terlalu jauh. Nina tak bisa menjangkaunya. Ia mendengus sebal, ingin
mengambilnya, tapi terlalu malas untuk bangkit. Nina sunyi sejenak.
Tik.
Tik. Tik. Detik jarum jam itu membuat Nina gusar. Entah jam berapa sekarang
tapi Nina sadar ia harus menunggu berjam-jam lagi sebelum Ayahnya pulang. Nina
lapar. Hanya beberapa sendok kacang hijau sisa semalam yang mengisi perutnya
pagi ini. Semangkuk kecil untuk berdua. Nina dan Ayahnya. Kruuuuk… perut Nina
semakin lapar. Menunggu ayah sepertinya bukan jawaban. Nina tahu Ayahnya akan
pulang tanpa harapan. Sebungkus makanan untuk berdua. Nina dan Ayahnya.
Ck
ck ck., cicak di dinding berdecak riang. Nina sedikit lega setelah mengisi
perutnya dengan segelas gelas air dari keran tak jauh dari ranjangnya. Nina
duduk di lantai. Ia rindu meja dan kursinya. Tempat ia biasa menggambar dan
meletakkan barang-barang ciptaannya. Kini meja dan kursi itu hilang. Dibawa pergi pembeli, kata ayah. Kertas
gambarnya habis. Kini tangan kecil Nina mencari-cari lembaran bersih. Namun
yang ia temukan hanyalah gumpalan kertas yang sepertinya sudah penuh di kedua
sisi. Nina sedih, tapi juga senang. Ia menemukan alasan untuk menggambar di
kertas yang lebih luas. Dinding kamar.
Nina
meraba-raba, memilih mana di antara keempat dinding itu yang akan menjadi papan
lukisnya. Dinding nomer satu, tepat berada di seberang kasur. Nina mulai
menggambar. Pensil sepertinya tak cukup terang, maka ia pun mencoba menggunakan
arang. Nina menggambar sesuka hati tak peduli gambarnya hanya hitam dam putih.
Jemarinya bergerak kesana kemari, menggores dinding tanpa henti. Nina
menggambar istana, menggambar ibunya, menggambar sepotong roti, menggambar
sepasang sepatu, menggambar apapun sesuka hati. Tangan Nina bergerak semakin
liar mencoret-coret setiap ruang kosong. Napasnya kian memburu seiring dengan
pandangannya yang tidak menentu. Nina melempar bongkahan arang itu ke dinding
hingga hancur berkeping-keping.

Tik.
Tik. Tik. Jarum jam terus bergerak. Nina
mulai bosan.
Hari
mulai senja dan Ayah belum tiba. Nina meraih boneka jeraminya. Ayah membuat
boneka itu di hari ulang tahunnya yang keenam. Ini teddy bear untukmu… Ayahnya berucap dengan bangga. Nina menerimanya
dengan senyum bersinar. Meski ia tahu tidak ada teddy bear yang berbulu kasar. Nina
terus memeluk boneka itu. Sedangkan boneka lain tergeletak tak berdaya. Rusak,
hancur, terkoyak oleh si empunya. Terakhir kali Nina mengamuk, Ayah memukul
wajahnya dan mengancam tidak akan memberinya boneka lagi. Tapi ancaman itu
justru membuat Nina sedih. Mengingat itu, ia mulai mengamuk sendiri.
Malam
semakin pekat. Nina menyanyi sambil sesekali menguap. Terakhir kali Ayahnya
mengingatkan agar Nina tak lagi menyanyi di malam hari. Anak-anak warga yang
bodoh itu ketakutan mendengar suaranya yang seram. Pun dengan segerombolan
remaja mabuk ganja yang lewat di depan kamarnya. Mereka lari tunggang langgang mendengar
suara tanpa rupa. Tak tahu siapa gerangan gadis kecil yang bernyanyi di malam
sunyi. Belum lagi bila Nina mulai berteriak-teriak tanpa henti. Ayahnya harus
bersusah payah meyakinkan warga bahwa anaknya hanya demam tinggi. Kau gila… Kata mereka. Mendengar itu
Ayah akan segera menutup pintu seolah tak peduli.
Tapi
kini Nina didera bosan. Ia pun memohon ijin untuk bernyanyi perlahan.
Nina
tahu rumahnya kini gelap gulita. Setiap malam Nina sering mendengar pekikan
Ayahnya yang entah terantuk apa. Malam ini angin berhembus sedikit kencang.
Nina dapat mendengar dengan jelas jemari-jemari pohon yang bergesekan di luar
sana. Si teman ilusi datang lagi entah dari mana. Ia tersenyum menunjukkan
gusinya yang tanpa gigi. Nina yang sudah teramat bosan pun mendadak riang.
Nina
dan si teman ilusi bermain bola. Nina bergerak, melompat, dan tertawa girang.
Sesekali ia berbicara dengan dua suara, satu miliknya dan satu lagi milik
temannya. Nina berbicara lagi. Aku lapar,
apa kau punya makanan? Si teman ilusi terkekeh, lalu menjawab, Tentu saja. Ini, makanlah… Si teman
ilusi menyodorkan sepotong roti isi. Nina memakan segumpal udara di tangannya
dengan senang hati. Kau mau segelas susu?
Si teman ilusi bertanya sembari mengeluarkan segelas susu coklat yang entah
dari mana muncul begitu saja dari tangannya. Nina pun melompat riang dan segera
meminumnya.
Kini
Nina mengantuk. Dengan perlahan ia merangkak kembali ke ranjangnya yang“empuk”.
Si teman ilusi pamit pergi, segera setelah Nina tenggelam ke alam mimpi. Nina
tidur dalam sunyi. Dalam gelap yang bahkan tidak lebih pekat dari pada saat ia terjaga.
Sesekali giginya berderak-derak, bergesekan satu sama lain tanpa henti. Nina
tidur dalam sunyi.
Klik.
Pintu kamar Nina dibuka. Ayah yang berwajah letih masuk untuk memastikan bahwa
malaikat kecilnya baik-baik saja. Tembok
kotor itu semakin kotor dengan coretan-coretan Nina. Tapi kali ini Ayah tidak
marah karena ia tahu Nina menginginkan kertas yang tak lagi bisa dibelinya. Biarlah, anggap saja itu lukisan yang indah…
Ayah tersenyum kecut melihat coretan-coretan tak karuan. Ayah memunguti mainan-mainan Nina yang berserakan
di lantai. Boneka jerami, batu-batu kecil, sepatu sebelah kiri, gelas kosong,
bola karet dan gumpalan-gumpalan kertas. .
Ayah
menepuk tubuh Nina perlahan-lahan. Waktunya
makan..kau pasti lapar ya? Nina terbangun lalu tersenyum menunjukkan
gigi-giginya yang penuh karang. Kali ini Nina tidak menyesal tidur lebih dulu
karena ternyata Ayah terlambat pulang. Sudah tengah malam dan kini Nina harus
terbangun lagi sekedar untuk mengisi perutnya. Nina yang lapar tiba di bilik
sebelah tempat Ayah telah menunggu dengan hidangan yang lezat. Makan apa kita malam ini?
Ayah
memotong roti isi menjadi dua dan menyerahkan separuhnya ke tangan Nina. Selamat makan… Suara Ayah terdengar
jenaka. Nina tersenyum dan makan dengan lahap. Hari ini tukang susu itu membohongiku! Ia memberi susu yang berbeda
dari biasanya! Ayah mendengus sebal. Nina tersenyum. Tangannya meraih
segelas susu itu dan meneguknya dengan cepat. Nina tersenyum lagi. Susu malam
ini terasa seperti air yang diminumnya siang tadi. Melihat Nina, ayah tersenyum
sedih. Maaf, aku harus menambahkan air
agar susu itu cukup untuk kita berdua… Nina mengangguk. Tak apa. Terima kasih, Ayah…
Nina
sudah kenyang dan ingin kembali ke kamarnya. Nina bangkit dan bersiap pergi. Hei! Mana tongkatmu? Ayah baru sadar
Nina berdiri sendiri. Nina menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sembari
menunjuk tongkat kayunya yang telah terpenggal. Ayah ingin marah, tapi tak
kuasa. Nina tertawa, sekali lagi menunjukkan gigi
geliginyanya yang menghitam. Kau ingin Ayah
mengantarmu ke kamar? Nina menggeleng. Baiklah,
kalau begitu cepatlah tidur, Ayah menarik napas dalam-dalam, duduk
bersandar, dan menyaksikan putrinya kecilnya pergi. Kaki kecil Nina menapak
dengan hati-hati, sembari tangannya meraba udara tanpa henti.
Nina
Si Buta Setengah Gila berhenti melangkah, lalu menoleh kembali ke arah Ayahnya.
Komentar
Posting Komentar