Menjadi Sekar
Tok. Tok. Tok. Tok.
Ujung kitten heels
Sekar beradu dengan lempeng-lempeng keramik sepanjang koridor kampus. Senyap.
Beberapa petugas kebersihan terlihat di sudut-sudut gedung. Sebagian tengah
bersemangat berpacu dengan waktu, membersihkan seluruh toilet di lantai satu
agar tak bau. Sebagian lagi mengepel koridor sembari sesekali melirik setengah
sebal setelah satu dua orang permisi
lewat. Sekar berjalan perlahan sedikit membungkuk melewati lantai yang basah.
Perlahan karena takut terpeleset. Membungkuk sekedar untuk berbasa-basi. Biar
si pekerja tak marah lantai bersihnya diinjak-injak lagi.
Tok-Tok. Tok-Tok. Tok-Tok.
Langkah Sekar satu tempo lebih cepat naik tangga menuju ke
lantai dua. Setengah perjalanan, matanya menoleh sekilas, melihat bayangannya
terpantul di cermin besar di tepi tangga. Rapi. Thank’s God, siapapun yang meletakkan cermin di sini jenius!
Sembari terus berjalan, Sekar merapikan kembali helaian-helaian rambut yang
jatuh di keningnya. Tok-tok.Tok-tok. Sekar terus berjalan.
Sekar sampai tujuan. Jam tangan mungil klasik pemberian
mantan kekasihnya menunjukkan pukul tujuh pagi tepat. On time! Sekar buru-buru melihat papan nama di samping pintu
ruangan itu. Matanya dengan cekatan menyusuri nama-nama yang tertera, berharap
siapa yang dicari ada di dalam sana. Sekar kecewa. Yang dicarinya belum tiba. Huh, pasti ujung-ujungnya begitu lagi
Tok… Tok… Tok… Tok…
Sekar turun dengan langkah gontai. Ingin pulang, tapi
enggan. Ingin menunggu, tapi jemu. Sekar memilih ke kantin saja. Barangkali ia
bertemu satu dua orang yang bisa diajak bertegur sapa. Tapi lagi-lagi Sekar
kecewa. Tidak ada siapapun di sana, kecuali ibu kantin beserta para kacungnya
yang modar mandir kesana kemari menyajikan teh untuk para pekerja. Ya sudahlah, ngopi saja…
Sekar membuka ponsel pintarnya. Ujung jemarinya bergesekan
lembut dengan layar setiap hari ingin disentuh. Hari-hari ini, entah kenapa
teman-temannya menjadi jauh lebih bijak. Atau lebih tepatnya terlihat bijak.
Hampir seluruh timeline-nya dipenuhi
kalimat-kalimat mutiara. Entah sungguh dilaksanakan atau cuma jadi pajangan.
Sekar tak peduli. “Jika kesabaran itu dibayar, Saya pasti sudah kaya raya”.
Salah satu postingan akhirnya berhasil membuat Sekar tertawa.
Segerombolan mahasiswi duduk di samping Sekar. Sekar
terkejut. Ah, sudah pukul setengah sembilan,
pantas saja mulai ramai… Sekar memesan semangkuk mie rebus untuk sarapan.
Tak sehat, tapi ia sedang ingin berhemat. Lima menit kemudian semangkuk makanan
cepat saji itu telah mengepul di hadapan Sekar yang tengah lapar. Menggoda
selera makannya.
Gerombolan mahasiswi itu masih di sana. Bergosip kesana
kemari, mencela orang di sana sini. Mulai dari kawan, lawan, hingga siapapun
yang baru dikenal. Mulai dari sekedar guyonan, hingga yang cukup mengerikan.
Sekar mengumpat sebal dalam hati. Tak ingin mendengar, tapi mau bagaimana lagi.
Kasak-kusuk itu begitu menarik hati. Terlebih ketika salah satu dari mereka
memperbincangkan seseorang yang tengah Sekar cari sedari tadi. “Ih…itu sih udah
lama jadi bahan gosipan kali…udah banyak yang diajak gituan…” Sekar tersedak.
Kuah mie muncrat mengotori kemeja biru mudanya.
Tok. Tok. Tok. Tok.
Sekar melangkah cepat menuju toilet lantai satu. Ah, sial! Rupanya bukan aku saja korbannya! Seketika
Sekar merasa jijik dengan apa yang tengah terjadi. Ini harus diakhiri. Ponsel Sekar bergetar. Satu pesan masuk.
Dosbing
Anjing:
Halo Sekar,
maaf Saya tidak bisa datang ke kampus hari ini. Kita ketemuan di luar saja ya
seperti biasa? Saya tunggu nanti malam di kamar 201 Hotel Bintang Lima.
Sent.
Aku tidak tahu
niat apa yang membawaku akhirnya menulis kisahku sendiri. Hanya iseng? Mungkin.
Cari perhatian? Tidak, itu kebodohan. Aku tidak tahu bagaimana reaksi editor
buletin kampus itu ketika ia membaca kisah ini. Jika dia bodoh, mungkin dahinya
akan mengernyit bingung, tak begitu mengerti dengan apa yang tertulis di
dalamnya. Jika dia sedikit lebih pintar, dia akan mencoba menerka makna apa
yang ada di baliknya. Bertanya dalam hati, mungkinkah
ini kisah nyata? Atau…dia justru akan tertawa? Menggeleng remeh, lantas
mengirim file ini ke dalam kelompok naskah terbuang. Cerita amatiran – yang
sedikit kasar – tak pantas masuk buletin
kampus bermoral.
Windows is shutting down…
Kulihat cahaya
matahari senja yang tadi mengintip di balik celah gorden kamarku kini lenyap.
Berganti dengan warna hitam pekat membikin penat. Sial, waktunya berangkat
bimbingan.

Komentar
Posting Komentar