Saya, Agama dan Ibadah


“Nah, ini mbak yang nggak pakai jilbab sendiri namanya siapa?” Tanyanya dengan penuh semangat sembari mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. “Kadek, Bu.” Jawabku. “Wah, kamu dari Bali ya. Saya kemarin habis dari Bali tiga hari lho!”

Detik itu juga saya baru sadar bahwa saya memang satu-satunya perempuan yang tidak berjilbab di ruangan itu…

Saya tidak sedang berada di dalam masjid. Saya juga tidak sedang berada di tengah-tengah ceramah agama. Hanya di sebuah ruang diskusi terbuka beralaskan karpet kusam bersama beberapa orang teman. Tidak banyak yang hadir di ruangan ini. Mungkin…jumlahnya tak lebih dari 30 orang. Entahlah, mungkin pengumuman yang kami sebar di media sosial tak cukup menarik perhatian para mahasiswa di sekitar kampus sekalipun ini acara gratisan. Atau mungkin karena para mahasiswa lebih asik twitter-an atau sekedar pamer foto selfie, ketimbang harus datang malam-malam ke kampus sekedar untuk membahas topik klise tahunan bertajuk “emansipasi wanita”.

Bu Yuli, sosok wanita inspiratif yang penuh semangat menjadi “bintang tamu” kami malam itu. Suasana yang tadinya dipenuhi wajah-wajah letih sepulang kuliah, seketika berubah sumringah dengan mata berbinar. Penampilannya yang modis ala hijabers masa kini sangat cocok dengan gayanya yang energik. Belum lagi, dari pengenalan singkat yang disampaikan moderator, saya tahu bahwa Bu Yuliani bukanlah orang biasa. Pengabdian dan prestasinya di masyarakat cukup mumpuni ketimbang mereka yang sudah bikin rakyat Indonesia apatis dan malas nyoblos. Yah..semoga saja penilaian ini tidak salah.

Setelah sapa singkat itu, Bu Yuli melanjutkan penuturannya tentang pentingnya menghargai sesama sebagai bentuk dari kesetaraan. “…Kalau ingin orang lain respect sama kita, ya kita harus respect sama orang lain. Tidak peduli suku agamanya….”

Diskusi terus mengalir. Kini pembahasan mulai masuk ke poin utama : kesetaraan antara pria dan wanita. Sebagai sosok yang, saya lihat, cukup agamis, maka tidak aneh bila dalam diskusi ini pun disisipkan nilai-nilai agama. Tak masalah, toh kita memang bangsa ber-Tuhan.

Bu Yuli mengatakan bahwa pada dasarnya setiap agama mengajarkan tentang makna kesetaraan itu. Lagi-lagi beliau secara spontan mengarahkan pandangannya kepada saya. “Kadek, kalau di Hindu ada nggak ajaran tentang posisi wanita?” Hening. Saya hanya terdiam dan tetap menatap lekat-lekat mata beliau. Tidak ada jawaban apapun yang keluar dari mulut saya. Tak disangka Bu Yuliani kemudian membelai pipi saya sembari berkata dengan lembut, Kamu kurang beribadah ya. Kadek…. Hening lagi. Tanpa melihat sekeliling pun aku tau teman-teman yang lain hanya tersenyum mendengarnya.

Saya? Ya, hanya tersenyum. Senyum kecut.

Ya-ya… saya memang tak pandai agama. Ibu saya dulunya adalah orang Kristen yang pindah agama menjadi Hindu ketika menikah dengan ayah. Ayah saya pun bukan orang yang terlalu pandai agama. Jujur saja, ini penilaian yang objektif. Sejak lahir hingga kini, saya dibesarkan di lingkungan non-Hindu. Dan hanya dibekali ilmu agama secara formal setiap satu minggu sekali.

Waktu TK saya pernah secara “tidak sengaja” harus belajar menulis Arab. Ketidaksengajaan ini terus berlanjut hingga saya kelas satu SD sampai ketika wali kelas saya menegur dan menjelaskan bahwa saya tidak perlu melakukan itu. “Kamu kan Hindu, dek… Ini buat yang Islam aja..” begitu kira-kira Bu Atik, wali kelas saya, menjelaskan.

Pernah suatu kali saat kelas dua SD, saya ditertawakan teman-teman sekelas saat pelajaran PPKN. Bu Guru mengajukan pertanyaan, “Sehabis makan apa yang diucapkan..?”. “Alhamdulilah..” jawab teman-teman muslim. “Puji Tuhan…” jawab teman-teman Kristiani. “Kalau Hindu bagaimana, Dek?” Tanya Bu Guru. Saya yang panik dengan ragu-ragu menjawab, “Om santih santih santih Om…

Yang saya ingat, saat itu tawa meledak memenuhi penjuru kelas. Apa yang lucu? Entahlah, mungkin kalimat itu terdengar aneh bagi teman-teman yang lain. Yang saya ingat, tawa itu cukup membuat gadis kecil umur tujuh tahun ini bersedih atas kondisinya yang “berbeda”. Sekarang, di usia saya yang telah menginjak 21 tahun, saya tetaplah seorang Hindu. Mungkin kondisi saya tidak jauh berbeda dengan masa kecil itu. Hanya saja saat ini saya memiliki lingkungan yang jauh lebih baik, meskipun memang tekanan sebagai minoritas akan selalu terasa.

Jujur saya, pernyataan Bu Yuliani barusan cukup membuat saya merasa sedih. Terasa betul nyeri di dada ini sedetik ketika beliau berucap demikian. Bukan karena saya membenci beliau lho… Sungguh bukan itu. Hanya saja karena pernyataan itu telah membuat saya mempertanyakan kembali jalan yang saya lalui.

Saya tenggelam dalam lamunan barang sesaat…

“Ibu…kenapa ibu bilang saya jarang beribadah… Apa hanya karena saya tidak bisa menjawab pertanyaan itu?  :(
Ibu...saya memang bukan orang yang ahli agama. Saya belum memahami semua isi Weda, Saya tidak bisa membuat banten-banten yang rumit, saya pun juga tidak hafal semua macam doa. Tapi percayalah bahwa setiap saat saya selalu mengingat Tuhan…
Ibu…dulu waktu kecil saya pernah berpikir, mengapa saya beragama Hindu? Mengapa saya lahir dari orang tua Hindu? Sementara lingkungan sekeliling saya berbeda… Oh, bukan, justru sayalah yang berbeda di antara mereka…Tapi kemudian saya sadar, bahwa Tuhan menempatkan saya di titik ini agar saya dapat mencari jalan saya sendiri. Jalan untuk bertemu dengan-Nya.
Seseorang pendeta pernah berkata kepada saya, beribadah dapat dilakukan dengan banyak jalan. Beberapa orang beribadah dengan cara menyembah dan memuja-Nya secara langsung. Sebagian lain beribadah dengan jalan mempelajari dan mengamalkan pengetahuan-pengetahuan suci. Dan sebagian lainnya lagi dengan melakukan amal kebaikan. Kira-kira saya ada dimana ya, Bu?
Ibu…sungguh pemahaman saya tentang ilmu agama masih sangatlah dangkal. Seperti genangan air dibanding lautan. Namun percayalah bahwa keinginan saya untuk belajar jauh lebih dalam dibanding siapapun… Saya belajar untuk mengenali Tuhan.. Saya belajar mencintai Tuhan… Saya belajar untuk meyakini Tuhan sebagaimana saya ingin meyakininya…
Tidak bisakah perjuangan ini disebut beribadah? Saya harap Tuhan mengerti…”  :)

Lamunan saya buyar. Saya terseret kembali ke ruang aula itu. Diskusi masih berjalan dengan asik, tatkala Bu Yuli terus membagi pengalaman-pengalamannya yang begitu menarik perihal emansipasi wanita. Di sela-sela obrolan yang serius itu, beberapa di antara kami melontarkan sedikit gurauan yang dijawab dengan tak kalah jenaka pula. Semua berjalan dengan menggembirakann. Begitupun saya yang kembali larut dalam diskusi itu. Tersenyum, tertawa, bertepuk tangan… Bahkan di penghujung acara saya masih sempat mengantar Bu Yuliani pulang ke rumahnya.

“Terima kasih untuk hari ini ya, Bu…” Kami bersalaman. Saya berpamitan. Lalu pulang

Komentar

Postingan Populer