Deburan Air
Dengungan motor Bang Yud terdengar cukup kencang, sampai akhirnya saya rasakan motor itu bukan melaju kedepan melainkan mundur. "Mampus..kita bakal jatuh nih. Stop..stop.. Ok, what should we do? Jump! One..two..three..!" Batinku detik itu. Panik, seketika itu juga aku melompat menjatuhkan diri ke kiri, dan Bang Yud ke kanan menahan motornya. Persis beberapa sentimeter dari bibir jurang kebun kopi itu.
Berawal dari obrolan iseng di salah satu kedai kopi dekat rumah saya, tercetus ide untuk mengunjungi salah satu air terjun yang baru-baru ini tengah ngehits di antara para instagramers kota sebelah.
"Mumpung ada jatah off kerja dua hari..." pikir kami.
Sejak hari itu saya mulai rajin browsing-browsing info tentang destinasi tersebut. Dan dari beberapa artikel yang saya baca, hampir semua menginformasikan jika air terjun itu cukup sulit dijangkau. Trek-nya lumayan ekstrim dan lokasinya terbilang cukup jauh dari rumah kami. Kurang lebih 5-6 jam naik motor.
"Fiuh..it's not gonna be easy, Bung..."
Menjelang hari H entah kenapa saya mulai ragu. Terlebih melihat cuaca beberapa hari terakhir yang terus hujan. Tapi, apa mau dikata, semangat muda terlanjur membara. Bang Yud, dengan gaya santainya yang seperti biasa, berucap : Budhaaaaaaal..... (baca : berangkat)
Hari H, pukul 7.00 kami bertemu di salah satu penitipan sepeda motor di dekat rumah saya. Bang Yud sudah siap dengan motor lakiknya yang entah dia pinjam dari siapa. Mungkin kawan bikers-nya. Agaknya dia sadar diri jika motor matic yang biasa ia tunggangi tidak akan sanggup mencapai tempat itu.
Motor saya titipkan, dan kami pun berboncengan. Perjalanan dimulai...
Pukul 11.00 kami sampai di salah satu desa di kota itu. Lapar mulai menyerang, dan kami putuskan untuk makan di sebuah warung kecil di pinggir jalan. Sepiring nasi pecel lauk tempe dan bakwan jagung cukup membuat perut kenyang.
Perjalanan berlanjut...
12.13, GPS saya mulai ngambek. Saya perhatikan panah bergerak tidak lagi di jalur biru, pertanda kami mulai salah arah dalam melaju.
"Stop-Stop, Bang! Kayanya kita salah jalan deh..."
Bang Yud menepikan motornya lalu berjalan ke arah sekelompok bapak-bapak untuk bertanya. Dari atas motor saya melihat gerakan tangan mereka menunjukkan arah yang tepat. Bang Yud mengangguk-angguk mantap.
"Matur suwun, nggeh.. Monggo..."
Kami memutar arah dan melanjutkan perjalanan.
Pukul 12.30 dan jalan yang kami lewati semakin berbatu. Naik dan turun. Ah...ngga seberapa sulit ternyata.. Pikir saya melihat jalan kala itu. Sedikit sombong karena merasa saya sudah pernah melewati trek yang lebih sulit.
Sampai akhirnya kami tiba di satu titik di desa itu dimana ada 3-4 bapak-bapak (lagi-lagi) yang sedang terduduk santai. Tak jauh dari situ saya hanya melihat sepotong papan bertuliskan "Jalan pintas". Salah seorang dari mereka bertanya, "Mau ke air terjun ya mas?" Kami spontan mengangguk.
"Oh iya, lewat sini saja. Jalannya sulit, mau naik ojek? Kalo mau naik motor sendiri ya ngga apa-apa, nanti ada yang bantu ikut dari belakang.."
Seperti yang sudah saya duga, Bang Yud yang merasa tertantang pun memutuskan untuk mengendarai motornya saja.
Yang saya lihat, jalan pintas itu hanya berisikan jalan setapak selebar 40 sentimeter dimana kanan kirinya dipenuhi kebun kopi. Di beberapa spot bahkan masih berupa tanah lembek. Jujur, saya sedikit khawatir melihatnya.
Tanah lembek, becek, jalan sempit dan meliuk-liuk, jurang di kanan-kiri.. Oh God, this is not a good news....
Tangan saya mulai semakin erat berpegangan di besi belakang jok motor. Sesaat saya menoleh ke belakang, terlihat Bapak Ojek mengendarai motor bebek butut dengan santainya.
Perjalanan semakin menegangkan saat kami tiba di tanjakan pertama. Jalanan berbatu dengan tanah lempung becek dimana-mana.
Saya menahan nafas saat Bang Yud memindahkan gigi dan mengencangkan gas motornya...
Dengungan motor Bang Yud terdengar cukup kencang, sampai akhirnya saya rasakan motor itu bukan melaju kedepan melainkan mundur.
Mampus..kita bakal jatuh nih. Stop..stop.. Ok, what should we do? Jump! One..two..three..!
Panik, seketika itu juga saya melompat menjatuhkan diri ke kiri, dan Bang Yud ke kanan menahan motornya. Persis beberapa sentimeter dari bibir jurang di kebun kopi itu.
Dalam sepersekian detik saya seolah tersadar dari apa yang baru saja terjadi. Saya mengerjap-ngerjapkan mata dan melihat Bang Yud masih menahan motornya di sana. Dengan sangat sigap Bapak Ojek turun dari motornya dan membantu Bang Yud untuk naik. Sayang usaha itu gagal. Ban motor selip luar biasa.
Bang Yud mematenkan posisinya sejenak sembari menarik nafas panjang. "Motornya dinaikin aja mas, supaya ada bobotnya." Perintah Bapak itu. Bang Yud menurut. Satu...dua..tiga...motor kembali di-gas.
Berhasil!!
Puas bercampur lega, saya pun menaiki jalan setapak itu menuju motor Bang Yud yang sudah bertengger di atas sana.
"Hati-hati, Bang. Kalo ngga sanggup, aku turun aja.."
Perjalanan masih berlanjut. Beberapa kali di jalanan yang sempit itu kami masih harus berpapasan dengan motor para petani yang membawa hasil kebunnya. Sungguh semakin membuat perjalanan ini menantang. Berkali-kali juga motor kami selip ke bibir jurang karena menginjak tanah berlumpur.
Sepanjang perjalanan itu, tidak pernah sekalipun saya mengendurkan pegangan dari besi jok. Panik, takut, khawatir... tapi saya mencoba untuk tetap tenang agar perhatian si rider tetap fokus ke jalan.
Pukul 13.15.
Hembusan nafas panjang mengiringi sampainya kami di lokasi.
Kami tiba di sebuah lahan terbuka bertuliskan "Parkir". Tetapi tidak ada siapapun di sana. Hanya ada motor Bang Yud dan motor Bapak Ojek yang bertengger dengan santainya.
"Treknya amazing, Pak!" Ucap saya sembari menunjukkan dua jempol ke arah Bapak itu. "Hehehe...ekstrim ya mbak?" Si Bapak Ojek terkekeh.
Kami menuruni jalan setapak kurang lebih 5 menit, dan terdengarlah deburan air itu.
Rasa lelah seakan terbayar kita mata kami dimanjakan oleh panorama yang sangat indah. Air terjun di antara tebing batu, air yang jernih, suara deburan yang menyejukkan, ditambah lagi pemandangan dataran tinggi yang hijau.
![]() | |
| How beautiful... |
"Untung kesini hari ini, coba pas hari libur, pasti rame.."
Memang benar, hanya ada kami bertiga di tempat itu. Semakin menambah kedamaian yang selalu saya inginkan.
![]() | ||
| Dari atas lalu mengalir ke bawah |
![]() | ||
| Another side |
Setiap tingkatan memiliki kedalaman air yang berbeda-beda. Antara 2-10 meter. Dan menurut info dari Bapak Ojek, tingkatan inilah yang paling renang-able.
![]() |
| Wanna swim? Let's jump! |
Dalamnya sekitar 2-4 meter dengan arus yang relatif tenang. Tapi tetap saja, tidak disarankan bagi mereka yang tidak bisa berenang. Ingat, boleh berenang, bukan berendam.
![]() | |
| Hati-hati batunya licin! |
![]() | |
| It's nice to see the view up here.. |
Satu kata : menenangkan. Terlebih saat itu hanya kami yang berada di sana. Tenang sekali rasanya bercengkerama dengan alam. Tidak jarang kami menghabiskan beberapa menit untuk duduk terdiam di satu titik hanya untuk memejamkan mata sejenak, menikmati suara deburan itu.
![]() |
| Bercengkerama dengan alam |
Sayangnya kami tidak bisa berlama-lama di sana karena cuaca mulai gerimis. Setelah puas berkeliling dan duduk-duduk sebentar, pukul 14.30 kami pun memutuskan untuk kembali.
![]() |
| Melepas penat, bersiap pulang |
Di perjalanan pulang, saya memutuskan untuk dibonceng oleh Bapak Ojek saja. Mempertimbangkan jalan pulang yang lebih banyak tanjakan, dan Bang Yud yang pastinya mulai kelelahan (dan kelaparan, katanya), sepertinya akan lebih aman jika dia mengendarai motornya sendiri. Dan benar saja, saya lihat Bang Yud beberapa kali selip ke sisi jurang, dan Si Bapak Ojek yang seketika itu juga terlihat lebih expert membonceng saya.
Seriously, he is so damn expert! Dan entah sudah dimodifikasi secanggih apa, motor bebek butut itu terasa jauh lebih tangguh ketimbang motor Bang Yud. Hahaha.. See? Experience does matter.
Saat perjalanan pulang kami tidak henti-hentinya membahas trek luar biasa tadi. Ternyata pengalaman touring Bang Yud ke berbagai kota belum sanggup menundukkan trek ke air terjun itu. "Tau ngga, Bapak Ojek tadi katanya punya anak cewe kelas lima SD, dan sudah bolak-balik ke air terjun tadi sendirian naik motor vixion." Oceh saya yang disambut umpatan Bang Yud.
Sekian cerita saya di hari libur yang singkat ini. Semoga masih banyak lagi cerita yang dapat saya bagikan di hari-hari berikutnya.
Salam,
Nia- the peaceful place seeker









Komentar
Posting Komentar