Aku




Untuk semua wanita di dunia ini…
Pernahkan kalian mengalami pelecehan seksual? Jika tidak, maka bersyukurlah. Jika iya, maka tenanglah. Ada aku di sini bersamamu. Aku akan memelukmu. Aku akan menghapus air matamu. Menggenggam erat tanganmu. Karena aku tau pasti bagaimana rasanya itu.
Aku tau bagaimana rasanya. Aku bahkan ingat persis detik demi detik saat-saat mengerikan itu. Ketika sesuatu yang selama ini kau jaga, yang kau sucikan, dalam sekejab direnggut begitu saja oleh orang yang bahkan tak kau inginkan. Bukan sekali dua kali. Tapi berkali-kali. Aku ingat persis bagaimana ia merayu diriku yang lugu. Mengajakku “bermain”. Dan aku menurut saja. Ketika aku sadar, semua sudah terlambat. Aku sudah tenggelam dalam lautan bahaya. Mulutku terbungkam.  Hanya jerit dalam hati dan tangisan.. Menyaksikan hartaku hilang.
Aku tau apa yang dirasakan oleh mereka dengan nasib serupa. Beberapa dari mereka putus asa. Beberapa dari mereka tak lagi percaya pada dunia, bahkan pada dirinya. Beberapa dari mereka akan lebih memilih untuk diam. Merahasiakan sesuatu yang tak seharusnya dirahasiakan. Hanya untuk membuat dirinya aman dari hujatan. Beberapa dari mereka gila, lalu memutuskan untuk mati saja. Beberapa dari mereka justru semakin liar. Menjual diri mereka dengan murah. “Menikmati” kebebasan pasca dibukanya pintu keperawanan. Tak ada lagi yang perlu dilindungi. Tak lagi suci…
Aku tau persis bagaimana kemarahan itu datang. Membuatku ingin mengutuk dunia. Membuatku ingin menunjuk batang hidung Tuhan sembari berkata, “aku tak sudi menjadi tokoh dalam novelmu!!” Tapi kemudian aku sadar, Tuhan tak ada di sana. Entah ia tengah bersembunyi dimana… Jika aku bisa memilih, lebih baik aku tak usah dilahirkan saja. Aku marah. Aku tenggelam dalam kebutaan. Aku ingin dihancurkan saat itu juga. Atau hancurkan semua wanita di dunia ini, agar aku tak sendiri..
Aku tau persis bagaimana rasanya putus asa. Kotoran ini…tak bisa hilang seberapapun aku mencucinya. Aku menghujat diriku sendiri, sembari membayangkan bagaimana dunia akan menghujatku lebih dalam lagi. Aku membayangkan wajah Ayah Ibuku. Aku membayangkan wajah saudara-saudaraku, kawan-kawanku, yang mungkin akan malu. Aku bahkan berharap mereka tak perlu mengenalku. Biar aku sendiri saja…
Aku tau persis bagaimana rasanya ketakutan. Ia menyergapku kapanpun, dimanapun. Aku ingat persis bagaimana wajah orang itu. Bagaimana ia menyentuhku, apa yang dikenakannya... Suaranya.. bau badannya… Semua yang menghantuiku. Membuatku terus hidup dalam ketakutan. Hingga pada titik ini pun, aku tak bisa melepaskan diri sepenuhnya dari bayang-bayang kelam itu. Aku merinding, berdebar, bergetar tiap kali seseorang tak sengaja menyebut namanya…
Namun, aku juga tau saat dimana aku mulai berada pada titik terendah dalam keputusasaan itu. Ketika aku mulai mengikhlaskan semuanya. Membiarkan semua kenangan pada akhirnya akan hilang. Atau mungkin tersimpan di suatu tempat nun jauh di sana. Hingga aku sendiri tak lagi mampu menemukannya. Aku berdoa. Ya, aku berdoa. Agar tidak ada lagi wanita merasakan hal yang sama. Cukup aku saja…

Untuk semua pria…
Menurut kalian, wanita suci itu seperti apa? Yang tidak pernah disentuh lelaki? Yang segelnya belum rusak? Jika memang begitu maka rasanya Aku harus meminta maaf. Karena Aku tak lagi suci…
Menurut kalian malaikat itu apa? Mereka yang tidak pernah kotor? Mereka yang terus perawan? Jika memang demikian maka lagi-lagi aku harus meminta maaf. Karena aku bukan lagi seorang malaikat…
Jasadku kotor. Jasadku rusak. Aku pun tau, sekalipun sebenarnya tak mau tau.
Aku tau, beberapa dari kalian akan membenciku. Beberapa dari kalian akan menganggapku rendah. Beberapa dari kalian akan mengiba. Mengasihaniku.. Beberapa dari kalian akan tersenyum di depanku, dan di saat lain akan membicarakanku bersama kawan lelakimu. Beberapa dari kalian berusaha mengulikku untuk memuaskan rasa ingin taumu. Tentang bagaimana pemerkosaan itu. Beberapa dari kalian akan meyakinkanku, bahwa dunia tidak berhenti di saat ini saja. Beberapa dari kalian akan menepuk pundakku. Beberapa dari kalian meyakinkanku, bahwa kelak akan ada seorang lelaki yang dapat menerima keadaanku. Tapi itu bukan dirimu… Aku tau…
Jasadku kotor. Jasadku rusak. Aku tau…
Taukah kalian bagaimana rasanya menjadi Aku?
Taukah kalian bagaimana rasanya menjadi Aku?
Taukah kalian bagaimana rasanya menjadi Aku?
Taukah kalian…?
Jasadku kotor, jasadku rusak. Aku tau…
Namun aku juga tau bahwa jiwaku tetap suci. Tetap putih. Aku berjanji akan tetap berdiri. Walau sayapku tak lagi mampu mengepak. Walau mungkin wajahku akan sedikit tertunduk… Walau sesekali aku akan menangis… Walau sesekali aku akan menjerit dalam hati… Namun akan kubuktikan bahwa aku tak ingin dikasihani. Bahwa jiwaku tetap suci…

Untuk Tuhan, dan segala permainan-Nya…
Yang tidak akan pernah Aku mengerti
Untuk Tuhan, dan segala permainan-Nya…
Yang tidak akan pernah Aku pahami
Untuk Tuhan, dan segala permainan-Nya…
Jangan biarkan Aku sendiri.
Atau Aku akan mati.


*****
Klik. Published.
Kinan tersenyum. Matanya puas memandang rangkaian kata yang baru saja diterbitkannya ke sosial media. Kinan tak sabar menunggu respon dan komentar dari para pengicau dunia maya. Barang kali akan ada satu dua orang yang iseng bertanya “Ini kisah anda?”
Kinan menghela nafas. Sebal. Waktunya kuliah.

Komentar

Postingan Populer