Tirai
Suara itu tiba-tiba datang. Suara yang cukup nyaring memecah kedamaian tidurku. Aku melongok ke samping sembari menggapai-gapai sesuatu di balik bantal itu. Ponsel bututku. Ah, masih jam sepuluh siang, pikirku. Suara itu datang lagi. Aku terhenyak, menajamkan telinga untuk memastikan bahwa aku tak salah dengar.
Teng-teng-teng-teng. Seseorang di sana mengetukkan kunci motornya. Menabrak-nabrakkan ujung besi itu ke arah lempeng pagar rumahku. Ya, aku sudah hafal betul dengan suara semacam ini. Suara itu semakin terdengar tidak sabaran. Aku berkeringat. Aku memejamkan mataku. Pura-pura tidur, pura-pura tak ada orang di rumah. Bila dewa menghendaki, aku pun ingin hilang saat itu juga. Andai aku bisa.
Tubuhku kaku, meski sebenarnya aku ingin sekali bergerak. Bukan untuk keluar rumah dan menyambut siapapun yang ada di sana. Tapi untuk mengintip melalui celah-celah tirai yang sedikit terbuka. Oh tidak, pikirku. Bagaimana jika orang itu masuk lalu melihatku dari celah itu? Aku bergerak perlahan. Sangat perlahan. Aku berusaha menutup tirai itu tanpa membuat suara sedikit pun. Kasurku berderak. Sial, umpatku. Aku bergerak lagi untuk melanjutkan tugasku yang belum selesai. Tirai itu tertutup. Kamarku gelap.
Pos-pos! Teriak seseorang di luar sana. Aku menghembuskan nafas yang sedetik tadi tertahan. Kelegaan yang luar biasa. Aku menghapus keringatku, lalu segera bangkit dan berlari membuka pintu. Tukang pos itu terlihat bosan. Atau mungkin geram. Entah karena menungguku terlalu lama, atau karena pekerjaannya yang tak berubah dari waktu ke waktu. Aku menerima surat itu. Satu surat dari sahabat penaku, dan dua lagi dari lembaga bimbingan belajar yang mencoba peruntungan dengan mengirimkan surat promosi ke alamat sesuka hati. Aku menutup kembali pintu rumahku.
***
Aku meringkuk diam di ranjang kamarku. Wajahku kotor terkena lelehan air mata yang mengering. Dalam tatapan kosong kulihat Ayah pulang membawa sebungkus nasi. Ia terkejut. Ada apa, tanyanya. Kulihat wajahnya sedikit panik. Aku tak menjawab. Aku gemetar hebat. Sepertinya aku ketakutan. Kulihat wajah Ayah yang curiga. Pasti ada sesuatu yang terjadi, begitu yang kulihat dari raut wajahnya.
Ada apa? Ia bertanya lagi. Kali ini sembari membawa sebotol air dari kulkas belakang. Aku bangkit dan meraih botol itu. Air dingin mengalir begitu saja, menyejukkan dadaku yang terasa sesak sejak sepuluh menit yang lalu. Ayah menerima kembali botol itu. Ayo makan dulu, katanya. Aku mengangguk perlahan.
Aku makan dengan lahap. Perutku lapar, dan sebungkus nasi campur dengan lauk telur dadar itu sudah lebih dari cukup. Aku melirik Ayah. Ia melihat ke arahku. Aku ingat Ayah mungkin belum makan. Sesendok nasi yang kusuapkan terakhir kali itu sebenarnya masih menyisakan setengah ruang kosong di perutku. Aku kenyang, kataku berbohong. Ayah memakan dengan lahap setengah bungkus nasi yang kusodorkan kepadanya. Aku menatapnya. Kulihat gurat-gurat wajahnya yang penuh kelelahan. Wajahnya masih tetap tampan seperti dulu. Hanya saja kini tertutup debu dan peluh.
***
Kamarku gelap, tapi aku masih terjaga. Kupikir Ayah dan Ibu di luar sudah tidur, tapi ternyata tebakanku salah. Mereka mengira aku sudah tidur, dan tebakannya juga salah. Aku terdiam menatap langit-langit kamarku. Di sudut atas sana ada celah. Sepertinya atap plafon itu akan jatuh beberapa hari lagi. Aku harus memindahkan rak bukuku, sebelum benda putih itu menimpanya, pikirku.
Sayup-sayup aku mendengar suara Ayah dan Ibu. Mereka tengah membicarakan sesuatu yang sudah kuhafal betul topiknya. Selalu. Setiap malam dengan topik yang sama. Kudengar Ibu berdecak. Ia putus asa. Lalu tak lama kemudian Ibu masuk ke kamarku untuk mengambil beberapa helai tisu. Aku pura-pura tidur.
Ayah dan Ibu kembali bercakap-cakap. Aku harus pinjam kemana lagi Pa, katanya lirih. Ayah menjawab, namun tak jelas apa yang dikatakannya. Entahlah, suaranya terlalu lirih untuk kudengar. Yang kemarin saja belum dikembalikan, suara Ibu kembali terdengar. Coba dulu Bu, aku juga akan berusaha cari pinjaman. Kini suara Ayah terdengar. Berikutnya hanya senyap yang kudengar. Dan sesekali suara sesenggukan dari nafas Ibu.
Tanggal berapa dia terakhir bayar sekolahnya? Suara Ibu menutup malam itu dengan pilu.
***
Suara itu datang lagi. Kali ini lebih sore, ketika pintu rumahku tengah terbuka lebar. Aku tak bisa bersembunyi. Aku mengintip sejenak dari balik tirai kamarku. Mereka datang. Bulu kudukku meremang, dan aku mulai ketakutan. Aku disergap rasa ragu. Aku tak ingin keluar, tapi aku jelas tak bisa bersembunyi. Aku tak lagi bisa pura-pura tak ada orang di rumah.
Berat langkahku menemui mereka. Lebih-lebih ketika kulihat seringai keduanya. Tubuhnya tinggi besar, dan semakin menakutkan dengan setelan hitam-hitam itu. Seperti algojo saja. Telapak tangannya yang besar menggenggam secarik kertas yang sangat ku kenali. Ia mencari Ibuku. Aku menggeleng, kubilang tidak ada. Kamu siapanya? Algojo pertama bertanya. Saya keponakannya, jawabku berbohong. Boleh minta nomer teleponnya? Aku menggeleng. Saya tidak tahu apa-apa, Pak. Suaraku terdengar parau. Aku selangkah mundur kebelakang. Hei, tunggu, mau kemana kamu? Sergahnya. Sebaiknya Bapak pulang saja, aku sedikit mengancam. Atau mungkin merasa terancam. Aku menggembok pagar rumahku dan perlahan berjalan menjauh. Algojo kedua terlihat berang. Kudengar ia memanggil-manggilku. Namun aku tak peduli. Aku menutup telingaku rapat-rapat dan tak sedikitpun ingin berbalik kebelakang.
Hei, tunggu! Ibumu itu berhutang! Algojo dua berteriak lantang.
***
Entah sejak kapan ketakutan ini dimulai. Dan entah sampai kapan pula ketakutan ini akan berakhir. Kemanapun aku berlari aku selalu merasa sesuatu mengejarku tanpa henti. Kemanapun aku bersembunyi. Bahkan ketika gelap menyelubungiku dalam tidur, aku masih dapat melihat mereka menunggu di sana. Menggedor-gedor pagar rumahku, mengumpat pada rumah kosongku, memaki, mencaci, memaksa tanpa peduli.
Aku tak pernah tahu seberapa banyak yang harus dibayar oleh kedua orang tuaku atas semua ini. Dan entah dengan apa ayah ibuku harus membayarnya. Yang kutahu daging di tubuh ayah sudah hampir habis, dan mata ibu sudah terlalu sering berkawan dengan air mata. Pernah sekali waktu aku melihat keduanya tertidur di ruang tengah. Wajah mereka lelah.
Bila boleh memilih, aku ingin hidup di hutan saja. Menanam makanan sendiri, memakannya bersama, menikmati malam yang sunyi bersama ayah ibu dan suara merdu orchestra alam. Tak bertemu orang lain pun aku tak peduli. Kadang aku bertanya pada diriku sendiri, untuk apa orang lain ada? Bila hanya Nampak di saat suka. Untuk apa orang lain ada, bila hanya untuk mencela di saat duka. Jangankan untuk mengulurkan tangan, untuk menoleh saja enggan. Bila bukan untuk mencapai kepentingannya.
Aku pernah berada di puncak menara. Namun kini aku tengah jatuh ke dasar palung terdalam. Gelap. Mencekam. Aku takut. Kadang pula aku merasa tersesat. Aku merasa sesak dan pengap. Aku ingin keluar tapi tak tahu harus kemana. Aku terbiasa hidup di tempat yang terang, tapi kini aku berada dalam kepekatan. Aku terbiasa menundukkan kepalaku untuk melihat ke bawah, namun kini aku harus menengadahkan kepalaku untuk melihat barang kali seseorang di atas sana hendak menolongku. Tapi ternyata kosong. Aku sendirian.
Aku berada di rumah ini. Tak aman, tapi aku masih bisa bersembunyi. Selagi masih sempat, aku akan menutup semua pintu itu. Berharap agar yang datang melihat rumah yang kosong, lalu pulang. Siapapun yang mendekat harus berhadapan dengan keheningan. Dan aku, aku sendiri akan berdiri di sini. Di balik tirai. Mengawasi mereka yang datang. Dalam ketakutan. Dalam kelelahan.
Sesungguhnya aku penat.
Aku ingin ini segera berakhir…
Teng-teng-teng-teng. Seseorang di sana mengetukkan kunci motornya. Menabrak-nabrakkan ujung besi itu ke arah lempeng pagar rumahku. Ya, aku sudah hafal betul dengan suara semacam ini. Suara itu semakin terdengar tidak sabaran. Aku berkeringat. Aku memejamkan mataku. Pura-pura tidur, pura-pura tak ada orang di rumah. Bila dewa menghendaki, aku pun ingin hilang saat itu juga. Andai aku bisa.
Tubuhku kaku, meski sebenarnya aku ingin sekali bergerak. Bukan untuk keluar rumah dan menyambut siapapun yang ada di sana. Tapi untuk mengintip melalui celah-celah tirai yang sedikit terbuka. Oh tidak, pikirku. Bagaimana jika orang itu masuk lalu melihatku dari celah itu? Aku bergerak perlahan. Sangat perlahan. Aku berusaha menutup tirai itu tanpa membuat suara sedikit pun. Kasurku berderak. Sial, umpatku. Aku bergerak lagi untuk melanjutkan tugasku yang belum selesai. Tirai itu tertutup. Kamarku gelap.
Pos-pos! Teriak seseorang di luar sana. Aku menghembuskan nafas yang sedetik tadi tertahan. Kelegaan yang luar biasa. Aku menghapus keringatku, lalu segera bangkit dan berlari membuka pintu. Tukang pos itu terlihat bosan. Atau mungkin geram. Entah karena menungguku terlalu lama, atau karena pekerjaannya yang tak berubah dari waktu ke waktu. Aku menerima surat itu. Satu surat dari sahabat penaku, dan dua lagi dari lembaga bimbingan belajar yang mencoba peruntungan dengan mengirimkan surat promosi ke alamat sesuka hati. Aku menutup kembali pintu rumahku.
***
Aku meringkuk diam di ranjang kamarku. Wajahku kotor terkena lelehan air mata yang mengering. Dalam tatapan kosong kulihat Ayah pulang membawa sebungkus nasi. Ia terkejut. Ada apa, tanyanya. Kulihat wajahnya sedikit panik. Aku tak menjawab. Aku gemetar hebat. Sepertinya aku ketakutan. Kulihat wajah Ayah yang curiga. Pasti ada sesuatu yang terjadi, begitu yang kulihat dari raut wajahnya.
Ada apa? Ia bertanya lagi. Kali ini sembari membawa sebotol air dari kulkas belakang. Aku bangkit dan meraih botol itu. Air dingin mengalir begitu saja, menyejukkan dadaku yang terasa sesak sejak sepuluh menit yang lalu. Ayah menerima kembali botol itu. Ayo makan dulu, katanya. Aku mengangguk perlahan.
Aku makan dengan lahap. Perutku lapar, dan sebungkus nasi campur dengan lauk telur dadar itu sudah lebih dari cukup. Aku melirik Ayah. Ia melihat ke arahku. Aku ingat Ayah mungkin belum makan. Sesendok nasi yang kusuapkan terakhir kali itu sebenarnya masih menyisakan setengah ruang kosong di perutku. Aku kenyang, kataku berbohong. Ayah memakan dengan lahap setengah bungkus nasi yang kusodorkan kepadanya. Aku menatapnya. Kulihat gurat-gurat wajahnya yang penuh kelelahan. Wajahnya masih tetap tampan seperti dulu. Hanya saja kini tertutup debu dan peluh.
***
Kamarku gelap, tapi aku masih terjaga. Kupikir Ayah dan Ibu di luar sudah tidur, tapi ternyata tebakanku salah. Mereka mengira aku sudah tidur, dan tebakannya juga salah. Aku terdiam menatap langit-langit kamarku. Di sudut atas sana ada celah. Sepertinya atap plafon itu akan jatuh beberapa hari lagi. Aku harus memindahkan rak bukuku, sebelum benda putih itu menimpanya, pikirku.
Sayup-sayup aku mendengar suara Ayah dan Ibu. Mereka tengah membicarakan sesuatu yang sudah kuhafal betul topiknya. Selalu. Setiap malam dengan topik yang sama. Kudengar Ibu berdecak. Ia putus asa. Lalu tak lama kemudian Ibu masuk ke kamarku untuk mengambil beberapa helai tisu. Aku pura-pura tidur.
Ayah dan Ibu kembali bercakap-cakap. Aku harus pinjam kemana lagi Pa, katanya lirih. Ayah menjawab, namun tak jelas apa yang dikatakannya. Entahlah, suaranya terlalu lirih untuk kudengar. Yang kemarin saja belum dikembalikan, suara Ibu kembali terdengar. Coba dulu Bu, aku juga akan berusaha cari pinjaman. Kini suara Ayah terdengar. Berikutnya hanya senyap yang kudengar. Dan sesekali suara sesenggukan dari nafas Ibu.
Tanggal berapa dia terakhir bayar sekolahnya? Suara Ibu menutup malam itu dengan pilu.
***
Suara itu datang lagi. Kali ini lebih sore, ketika pintu rumahku tengah terbuka lebar. Aku tak bisa bersembunyi. Aku mengintip sejenak dari balik tirai kamarku. Mereka datang. Bulu kudukku meremang, dan aku mulai ketakutan. Aku disergap rasa ragu. Aku tak ingin keluar, tapi aku jelas tak bisa bersembunyi. Aku tak lagi bisa pura-pura tak ada orang di rumah.
Berat langkahku menemui mereka. Lebih-lebih ketika kulihat seringai keduanya. Tubuhnya tinggi besar, dan semakin menakutkan dengan setelan hitam-hitam itu. Seperti algojo saja. Telapak tangannya yang besar menggenggam secarik kertas yang sangat ku kenali. Ia mencari Ibuku. Aku menggeleng, kubilang tidak ada. Kamu siapanya? Algojo pertama bertanya. Saya keponakannya, jawabku berbohong. Boleh minta nomer teleponnya? Aku menggeleng. Saya tidak tahu apa-apa, Pak. Suaraku terdengar parau. Aku selangkah mundur kebelakang. Hei, tunggu, mau kemana kamu? Sergahnya. Sebaiknya Bapak pulang saja, aku sedikit mengancam. Atau mungkin merasa terancam. Aku menggembok pagar rumahku dan perlahan berjalan menjauh. Algojo kedua terlihat berang. Kudengar ia memanggil-manggilku. Namun aku tak peduli. Aku menutup telingaku rapat-rapat dan tak sedikitpun ingin berbalik kebelakang.
Hei, tunggu! Ibumu itu berhutang! Algojo dua berteriak lantang.
***
Entah sejak kapan ketakutan ini dimulai. Dan entah sampai kapan pula ketakutan ini akan berakhir. Kemanapun aku berlari aku selalu merasa sesuatu mengejarku tanpa henti. Kemanapun aku bersembunyi. Bahkan ketika gelap menyelubungiku dalam tidur, aku masih dapat melihat mereka menunggu di sana. Menggedor-gedor pagar rumahku, mengumpat pada rumah kosongku, memaki, mencaci, memaksa tanpa peduli.
Aku tak pernah tahu seberapa banyak yang harus dibayar oleh kedua orang tuaku atas semua ini. Dan entah dengan apa ayah ibuku harus membayarnya. Yang kutahu daging di tubuh ayah sudah hampir habis, dan mata ibu sudah terlalu sering berkawan dengan air mata. Pernah sekali waktu aku melihat keduanya tertidur di ruang tengah. Wajah mereka lelah.
Bila boleh memilih, aku ingin hidup di hutan saja. Menanam makanan sendiri, memakannya bersama, menikmati malam yang sunyi bersama ayah ibu dan suara merdu orchestra alam. Tak bertemu orang lain pun aku tak peduli. Kadang aku bertanya pada diriku sendiri, untuk apa orang lain ada? Bila hanya Nampak di saat suka. Untuk apa orang lain ada, bila hanya untuk mencela di saat duka. Jangankan untuk mengulurkan tangan, untuk menoleh saja enggan. Bila bukan untuk mencapai kepentingannya.
Aku pernah berada di puncak menara. Namun kini aku tengah jatuh ke dasar palung terdalam. Gelap. Mencekam. Aku takut. Kadang pula aku merasa tersesat. Aku merasa sesak dan pengap. Aku ingin keluar tapi tak tahu harus kemana. Aku terbiasa hidup di tempat yang terang, tapi kini aku berada dalam kepekatan. Aku terbiasa menundukkan kepalaku untuk melihat ke bawah, namun kini aku harus menengadahkan kepalaku untuk melihat barang kali seseorang di atas sana hendak menolongku. Tapi ternyata kosong. Aku sendirian.
Aku berada di rumah ini. Tak aman, tapi aku masih bisa bersembunyi. Selagi masih sempat, aku akan menutup semua pintu itu. Berharap agar yang datang melihat rumah yang kosong, lalu pulang. Siapapun yang mendekat harus berhadapan dengan keheningan. Dan aku, aku sendiri akan berdiri di sini. Di balik tirai. Mengawasi mereka yang datang. Dalam ketakutan. Dalam kelelahan.
Sesungguhnya aku penat.
Aku ingin ini segera berakhir…


Komentar
Posting Komentar